Mengukur Rasa Syukur

Sering kita merasa bersyukur ketika kita lebih beruntung dari orang lain.
Bahkan sering kita memotivasi diri, “lihatlah ke bawah agar kita bisa bersyukur bahwa di bawah masih banyak yang lebih susah dari kita”.

Tapi saya jadi bertanya, “seberapa lemah dirimu sehingga Allah tidak mengujimu seperti sahabatmu itu?”.

Ujian yang Allah berikan kepada sahabat saya ini sungguh luar biasa. Ia diberi anak yang tak kunjung sembuh dari penyakitnya, ia sendiri diberi keterbatasan rejeki, ia pun diberi sakit. Dalam ukuran saya itu sangatlah berat yang mungkin membuat saya sulit tersenyum.

Image result for bersyukur

Tapi semua ujian itu ia lalui dengan sabar. Ia jalani dengan tetap berwajah santun, senyum dan hampir saya tidak pernah mendengar dia mengeluhkan akan semua ini. Ia tidak berhenti berikhtiar ke mana pun yang ia bisa lakukan akan kesembuhan anaknya.

Tawakalnya kepada Tuhan sungguh luar biasa. Pernah saya melihat ia menyedehkan hartanya sebab ada yang membutuhkan padahal uang itu masih sangat ia butuhkan. “berikan Bu, nanti juga Allah akan membantu kita”, mintanya pada istrinya.

Allah tahu bahwa pada siapa Ia akan mengangkat derajad hambanya. Dan tidak mungkin akan naik derajad seseorang jika tidak diberikanNya ujian. Allah memilihnya sebab sahabat saya ini sudah kuat untuk itu. Dan saya menyakini bahwa secara ruhaniyah sahabat saya ini jauh lebih kuat dibanding saya.

Itulah yang membuat saya tersadar saat ini. Di setiap saya melihat sahabat yang lebih susah hidupnya tapi keimanannya kuat. Di satu sisi saya bersyukur atas nikmat yang ada, namun disisi lain saya bertanya, “selemah apakah iman saya ini sehingga Allah kasihan pada diri ini untuk tidak diuji dengan yang lebih berat?”.

Syukur tidak harus membandingkan. Syukur adalah ketika kita menerima dengan ihlas apa yang ada. Lalu kita sibukan diri untuk mencari sisi positip sehingga yang ada adalah rasa berterima kasih.

Jangan rasa syukur itu diukur dengan membandingkan dengan orang lain. Apalagi dengan orang yang seolah ada di bawah kita.

Sebab belum tentu secara kedekatan kepada Allah kita lebih baik dari mereka. Justru kita harus berterima kasih kepada mereka yang telah membuka kesadaran diri kita.

Dan sekaligus sebagai intropeksi sebera pantas kita bisa lebih dekat dengan Allah sehingga kita tidak diberi ujian yang lebih dari sabahat2 kita yang seolah lebih rendah dari kita?.

Masihkan kita akan merasa hanya bersyukur jika melihat yang di bawah?

Related : Mengukur Rasa Syukur

0 Komentar untuk "Mengukur Rasa Syukur"

-->